Summary: | Daerah penelitian merupakan hasil dari adanya aktifitas tektonik yang terjadi sebanyak dua kali periode yaitu Oligosen awal - Miosen Awal dan Miosen Akhir - Kuarter yang menghasilkan busur magmatik. Salah satu produk dari adanya aktifitas tektonik ini yaitu munculnya intrusi di Gunung Gajah. Banyaknya batuan yang tersingkap pada daerah penelitian sehingga memicu peneliti untuk melakukan penilitian dengan tujuan tahap yang lebih lanjut untuk mengetahui karakteristik, petrogenesis dan proses pelapukan pada intrusi batuan basalt Gunung Gajah serta struktur pengontrolnya. Peneliti menggunakan metode geological mapping dengan luasan daerah 4 km² serta metode analisis petrografi. Berdasarkan hasil geological mapping daerah penilitian terusun atas lava, intrusi andesit, batugamping kristalin Jongrangan dan endapan vulkanik Gunung Gajah. Kehadiran intrusi membentuk karakteristik columnar joint rebah dengan bentuk prisma dengan tingkat pelapukan sedang-kuat. Proses pelapukan dikontrol oleh struktur geologi berarah Utara – Selatan berdasarkan data DEM-SRTM sehingga memicu air permukaan menyusup kedalam batuan melalui bidang-bidang lemah, keadaan topografi yang sangat curam dan keadaaan batuan yang banyak terkekarkan menjadi faktor utama pelapukan. Sehingga tingkat pelapukan pada daerah penilitian secara keseluruhan adalah lemah – sedang. Analisis petrografi menunjukan karakteristik batuan intrusi memiliki struktur skoria, tekstur holokristalin, subhedral, inequigranural, forfiritik dengan masa dasar plagioklas, komposisi terdiri dari plagioklas 40%, piroksen 45%, olivin 7%, opak 3% dan sisanya adalah rongga hasil pelepasan gas sebesar 5% dengan penamaan batuan andesit-basaltis. Maka karakteristik intrusi yang hadir merupakan bagian dari gunungapi purba Gajah yang berkomposisi basal-intermediet dan keluar melalui rekahan pada leher vulkanik dengan membentuk struktur columnar joint rebah dan mengintrusi lava di atasnya yang telah keluar lebih dahulu. Tingkat pelapukan yang lemah sampai sedang, namun dibeberapa lokasi memiliki tingkat pelapukan yang kuat serta kontrol struktur yang dominan sehingga dapat menjadi kajian dan pertimbangan jika dilakukannya pembangunan pada daerah penilitian.
|