Ontologi Eksistensialisme Kontemporer

Pemahaman tentang harkat dan martabat manusia mutlak diperlukan agar pembangunan nasional tetap berorientasi dan berwatak humanis. Oleh karena itu mengkaji ontologi eksistensialisme adalah sunguh penting, karena eksistesialisme merupakan salah satu aliran kefilsafatan yang memeberikan pemahaman tent...

Full description

Bibliographic Details
Main Author: Siswanto, Joko
Format: Other
Language:English
Published: Fakultas Filsafat UGM 1996
Subjects:
Online Access:https://repository.ugm.ac.id/278019/1/Joko%20Siswanto_Ontologi%20Eksistensialisme%20Kontemporer_1996.pdf
Description
Summary:Pemahaman tentang harkat dan martabat manusia mutlak diperlukan agar pembangunan nasional tetap berorientasi dan berwatak humanis. Oleh karena itu mengkaji ontologi eksistensialisme adalah sunguh penting, karena eksistesialisme merupakan salah satu aliran kefilsafatan yang memeberikan pemahaman tentang struktur dasar manusia yang paling eksistensial. Penelitian ini hendak mengkaji aspek-aspek: latar belakang munculnya eksistensialisme kontemporer, tema-tema pokok filsafat kesistensial, dan ontologi eksistensialisme kontemporer. Penelitian ini murni studi literer. metode yang digunakan hermeneutika-filosofis. Unsur metodis umum yang dipakai: deskripsi, komparasi dan refleksi. Hasil penelitian sebagai berikut: 1. Sikap metafisik eksistensialisme dapat dikategorikan sebagai "sikap yang memeberi jawaban yang pasti" dalam menghadapi masalah-masalah metafisika, baik positif maupun negatif. Oleh karena dapat sikatakan bahwa filsafat eksistensial bercorak ontologis. 2. Eksistensialisme menyusun suatu sistem yang menerima prinsip pertama dibelakang gejala-gejala, yang mana prinsip-prinsip inilah yang memberi "makna" dan "hukum" kenyataan. Prinsip pertama menurut eksistensialisme adalah "eksistensi" 3. Ontologi eksistensialisme adalah jenis pluralisme yang berwatak "metafisika centris", yakni menerima prinsip pluriformitas tetapi ada satu prinsip azali yang utama dan yang memberi makna, yaitu eksistensi atau manusia. 4. Manusia ebagai prinsip pertama artinya bahwa mausai melihat dirinya tidak hanya sebagai kenyataan pertama, tetapi sebagai pusat dunia dan dunia mempunyai makna oleh dan karena manusia."Manusia adalah tolok ukur segala sesuatu yang mengada, bahwa hal itu ada, dan hal yang tiada bahwa hal itu tidak ada". 5. Aspek positif filsafat eksistensial yang dapat dipakai sbeagai referensi adalah penekananeksistensialisme terhadap masalah kesadaran pentingnya kehadiran eksistensi yang lain (dimensi sosialitas) yang menuntut tanggung jawab pribadi. Eksistensialisme memberikan dasar bahwa dalam hisup bersama semaju apapun subjek (engkau) harus tetap diperlakukan sebagai subjek, tidak boleh bergeser menjadi objek atau benda. Landasan ontologi hidup bersama yang disasarkan atas komunikasi dan cinta dapat dikembangkan sebagai dasar kehidupan bersama di Indonesia.